Keesokan paginya, Leena terbangun dengan perasaan campur aduk. Ia merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya, dan saat ia menyadari bahwa itu berasal dari pelukan Lynx, wajahnya langsung memerah.

Namun, saat Leena mencoba bergerak, ia merasakan tangan Lynx berada di tempat yang tidak seharusnya. Leena terkesiap dan segera mendorong Lynx menjauh.

"Apa yang kau lakukan?!" seru Leena dengan marah, berusaha menutupi bagian tubuhnya yang disentuh Lynx.

Lynx terbangun dengan kaget. "Ah, maaf! Aku tidak sengaja, sungguh! Aku ketiduran dan-"

"Ketiduran?! Kau pikir aku akan percaya itu?" potong Leena, suaranya bergetar antara malu dan marah. "Kau pasti sengaja melakukannya!"

Lynx mengangkat tangan, berusaha menenangkan Leena. "Tidak, tidak! Aku benar-benar tidak sengaja. Saat kita tertidur, tanganku mungkin bergerak sendiri. Aku tidak bermaksud apa-apa, sungguh!"

Leena menatap Lynx dengan curiga, namun perlahan-lahan rasa malunya mulai menguasai. Ia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Ugh, kau benar-benar menyebalkan," gumam Leena pelan. "Tapi... baiklah, aku memaafkanmu. Kali ini."

Lynx menghela napas lega. "Terima kasih, Leena. Aku janji, lain kali aku akan lebih berhati-hati. Kita tidak boleh sampai ketiduran lagi, bisa bahaya."

Leena mengangguk, masih terlihat sedikit malu. "Ya, kau benar. Kita harus tetap waspada. Siapa tahu ada bahaya yang mengintai di sekitar sini."

"Lynx, aku haus sekali," keluh Leena, memandang Lynx dengan wajah memelas.

Lynx mengangguk, "Oke, kita cari air lagi. Tapi kita harus waspada, siapa tahu ada bahaya di sana."

Mereka berdua bersiap-siap dan berjalan menuju sungai kecil yang mereka temukan semalam. Saat mendekati area itu, Lynx tiba-tiba menghentikan langkah Leena dan berbisik, "Tunggu, Leena. Lihat di sana."

Leena mengikuti arah pandang Lynx dan terkesiap. Di tepi sungai, seekor buaya rawa sedang minum air dengan tenang. Buaya itu tampak besar, dengan sisik-sisik kokoh di punggungnya.

"Buaya?" bisik Leena dengan nada panik. "Kita harus pergi dari sini!"

Lynx menahan Leena, "Tunggu, jangan bergerak dulu. Kita amati sebentar. Mungkin dia tidak melihat kita."

Mereka berdua bersembunyi di balik semak-semak, mengamati gerak-gerik buaya itu. Leena merasakan jantungnya berdebar kencang, takut jika buaya itu menyadari keberadaan mereka.

Sementara itu, buaya itu tampak asyik minum air, sesekali mencelupkan kepalanya ke dalam sungai. Lynx memperhatikan dengan seksama, mencoba mempelajari pergerakan dan kebiasaan buaya tersebut.

"Sepertinya dia tidak terganggu dengan keberadaan kita," bisik Lynx pelan. "Tapi kita tetap harus hati-hati. Buaya adalah hewan yang buas dan berbahaya."

Leena mengangguk, wajahnya masih terlihat ketakutan. "Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa mendekati sungai itu."

Lynx berpikir sejenak, lalu menjawab, "Kita kembali ke tenda dulu. Kita butuh rencana untuk mengambil air tanpa mengganggu buaya itu."

Mereka berdua pun berbalik dan berjalan kembali ke tempat mereka berkemah. Sesampainya di tenda, Lynx dan Leena duduk bersama, mencoba memikirkan solusi untuk mendapatkan air.

"Kita tidak bisa terus-terusan kehausan," kata Leena dengan nada khawatir. "Apa kau punya ide bagaimana kita bisa mengambil air tanpa harus berhadapan dengan buaya itu?"

Lynx mengerutkan kening, berpikir keras. "Mungkin kita bisa mencoba membuat perangkap. Atau membuat alat untuk mengambil air dari jarak jauh."

"Perangkap?" Leena menatap Lynx dengan ragu. "Kau yakin bisa membuatnya? Aku tidak mau ada korban di sini."

"Tenang saja," Lynx meyakinkan. "Aku pernah belajar beberapa teknik survival. Kita bisa coba beberapa ide dan lihat mana yang berhasil."

Leena mengangguk, meskipun masih terlihat khawatir. "Baiklah, ayo kita coba. Aku tidak tahan lagi dengan rasa haus ini."

Mereka berdua mulai berdiskusi, mencoba mencari solusi terbaik untuk mendapatkan air tanpa harus berhadapan dengan buaya yang berbahaya. Lynx menawarkan beberapa rencana, sementara Leena mendengarkan dengan seksama, berharap mereka bisa segera menemukan cara untuk bertahan di tempat asing ini.

Saat Lynx dan Leena membahas rencana untuk mendapatkan air, Leena tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan Lynx yang sesekali menatap tubuhnya dengan tatapan kagum.

Leena mengerutkan kening dan berkata, "Lynx, bisakah kau berhenti menatapku seperti itu? Aku merasa tidak nyaman."

Lynx tersentak, tersadar bahwa Leena menangkap basah dirinya. "Ah, maaf... Aku tidak bermaksud-"

"Kau selalu menatapku seolah-olah aku ini hiasan atau sesuatu yang bisa kau pandangi sesukamu!" sela Leena dengan nada kesal. "Aku tahu kita dalam situasi sulit, tapi bisakah kau menghargai privasi dan kesopananku?"

Leena berusaha menghindari tatapan Lynx, namun tak sengaja pandangannya tertuju ke arah selangkangan Lynx yang tidak tertutup apapun. Seketika wajahnya memerah dan ia segera mengalihkan pandangan.

"Dan kau juga! Bisakah kau setidaknya menutupi bagian intimmu itu?" sergah Leena, berusaha menyembunyikan rasa malunya.

Lynx tersentak dan segera menutupi area privatnya dengan tangan. "Maaf, maaf! Aku tidak sadar. Ini semua terlalu tiba-tiba, jadi aku-"

"Ugh, kau benar-benar menyebalkan!" potong Leena, masih terlihat kesal. "Aku ingin kau menghormati aku, Lynx. Kita harus fokus pada cara bertahan hidup di sini, bukan memandangi tubuhku atau bagian tubuhmu yang terpampang!"

Melihat kemarahan Leena, Lynx terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa sikapnya telah membuat Leena tidak nyaman. "Kau benar, Leena. Maafkan aku. Aku akan berusaha untuk lebih mengendalikan diriku."

Leena menatap Lynx dengan serius. "Kau harus berjanji, Lynx. Aku tidak ingin melihatmu menatapku atau bagian tubuhmu seperti itu lagi."

Lynx tersenyum canggung. "Aku... aku akan berusaha, tapi aku tidak bisa berjanji sepenuhnya. Kau tahu, kecantikanmu itu luar biasa. Aku punya mata, dan aku tidak bisa memaksa diriku untuk tidak melihatnya."

Leena mengerutkan kening, merasa frustrasi dengan jawaban Lynx. "Ugh, kau benar-benar menyebalkan! Bagaimana aku bisa merasa nyaman jika kau terus-terusan menatapku seperti itu?"

Lynx mengangkat bahu dengan sedikit cengiran. "Maaf, Leena. Tapi kau tahu, aku laki-laki normal. Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk tidak terpesona oleh kecantikanmu."

Leena menghela napas panjang, mencoba bersabar. "Baiklah, kalau begitu kita harus fokus pada hal lain dulu. Kita harus membuat pakaian terlebih dahulu sebelum melakukan apapun."

Mereka berdua mulai mencari bahan-bahan di sekitar tenda untuk membuat pakaian sederhana. Namun, setelah beberapa kali mencoba, mereka gagal menghasilkan pakaian yang layak dipakai.

Setelah beberapa kali mencoba membuat pakaian namun gagal, Lynx dan Leena memutuskan untuk menyimpan dulu rencana itu dan kembali fokus pada cara mendapatkan air.

"Ugh, ini sulit sekali!" keluh Leena, frustasi melihat hasil karyanya yang berantakan. "Aku tidak pernah membuat pakaian sebelumnya."

Lynx tersenyum maklum. "Aku juga. Sepertinya kita butuh lebih banyak latihan. Tapi untuk sementara, kita simpan dulu rencana ini. Kita fokus dulu pada cara mendapatkan air."

Leena mengangguk, lalu menatap Lynx dengan serius. "Tapi kau harus berjanji, Lynx. Jangan menatapku atau bagian tubuhmu seperti tadi lagi. Aku benar-benar tidak nyaman."

Lynx menghela napas, lalu tersenyum lebar. "Oke, oke. Aku akan berusaha semampuku. Tapi kau tahu, aku tidak bisa menjamin 100% karena kau terlalu cantik untuk diabaikan."

Leena memutar bola matanya dengan kesal, tapi ia bisa melihat Lynx berusaha menahan diri. Meskipun Lynx masih sulit untuk sepenuhnya mengendalikan diri, Leena merasa lega bahwa setidaknya ia mencoba.

"Baiklah, terserah kau," ujar Leena, sedikit tersipu malu. "Yang terpenting, kita harus fokus untuk mendapatkan air. Aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa haus ini."

Lynx mengangguk, "Kau benar. Kita harus menemukan cara untuk mengambil air dari sungai itu tanpa harus berhadapan dengan buaya."

Leena menghela napas, "Tapi bagaimana? Kita tidak bisa terus-menerus kehausan."

Lynx terdiam sejenak, lalu menjentikkan jarinya. "Aha, aku punya ide! Kita bisa menunggu sampai buaya itu pergi, baru kemudian kita ambil air."

Leena mengerutkan kening, "Menunggu? Tapi kapan buaya itu akan pergi?"

"Entahlah, mungkin setelah dia selesai minum. Kita harus bersabar dan mengamatinya dulu," jelas Lynx.

Leena tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Baiklah, kita coba lakukan itu. Tapi kita juga harus cari makanan lain selama menunggu."

Lynx tersenyum lebar. "Itu ide bagus! Ayo, kita jelajahi hutan ini lagi, siapa tahu kita bisa menemukan buah-buahan yang bisa dimakan."

Mereka berdua pun kembali menyusuri hutan, kali ini dengan lebih waspada. Sesekali Lynx menebas semak-semak untuk membuka jalan, sementara Leena mengamati setiap tumbuhan yang mereka temui.

Tiba-tiba, Lynx berhenti dan menunjuk ke arah sebuah pohon. "Leena, lihat! Ada buah di sana."

Leena mengikuti arah pandang Lynx dan melihat sekelompok buah berwarna merah yang menggantung di dahan. "Wah, kelihatannya enak. Ayo kita periksa."

Dengan hati-hati, Lynx mendekati pohon itu dan mengamati buah-buah tersebut. Tiba-tiba, ia tersenyum lebar.

"Lihat, ada bekas gigitan hewan di salah satu buahnya. Itu artinya buah ini aman untuk dimakan," ujar Lynx senang.

Leena mengangguk, "Bagus, kalau begitu kita bisa memakannya tanpa khawatir."

Mereka pun mulai memanen buah-buah itu dan membawanya kembali ke tenda. Sambil menunggu buaya di sungai pergi, mereka menikmati makanan segar itu.

"Hmm, enak sekali," gumam Leena sambil menggigit buah itu. "Setidaknya kita tidak perlu mati kelaparan di sini."

Lynx mengangguk, "Iya, ini jauh lebih baik. Kita harus tetap semangat dan berusaha bertahan, Leena."

Leena tersenyum tipis, "Kau benar. Kita pasti bisa melewati semua ini bersama-sama."

Mereka berdua melanjutkan menikmati buah-buahan itu sambil sesekali mengamati sungai, menunggu buaya itu pergi agar bisa mengambil air dengan aman. Meskipun situasi mereka masih sulit, setidaknya mereka bisa saling mendukung dan bekerja sama untuk bertahan hidup di tempat asing ini.

Setelah menikmati buah buahan mereka, suasana di antara Lynx dan Leena terasa sedikit kaku. Keheningan yang menggantung membuat mereka merasa canggung.

Menyadari hal itu, Lynx berusaha mencairkan suasana dengan sedikit lelucon. Ia melirik Leena dan berkata dengan nada jahil, "Hei, Leena, apa kau tahu? Sejak tadi perutku terus berbunyi, seperti ada yang menggonggong di sana."

Leena mengerutkan kening, awalnya tidak mengerti maksud Lynx. Namun, setelah beberapa detik, ia akhirnya menangkap maksud Lynx dan tertawa kecil.

"Haha, dasar kau ini. Pantas saja tadi kau lahap sekali makan buahnya," balas Leena sambil tersenyum geli.

Lynx tertawa lebar, senang melihat Leena menanggapi candaannya dengan baik. "Habis, aku lapar sekali. Mana bisa aku menahan perut ini?" Ia menepuk-nepuk perutnya dengan bangga.

Leena menggeleng-geleng, lalu balas menggoda Lynx. "Huh, dasar perut karet. Pantas saja perutmu itu besar, tidak berbentuk seperti aku."

Mendengar itu, Lynx langsung memasang ekspresi pura-pura tersinggung. "Hei, jangan mengejek perutku! Setidaknya aku punya perut, tidak rata seperti papan cucian sepertimu."

Leena tertawa terbahak-bahak, tidak menyangka Lynx akan membalas dengan sindiran seperti itu. "Apa?! Kau bilang aku rata? Dasar tidak tahu diri!"

Lynx ikut tertawa melihat reaksi Leena. "Haha, maaf, maaf. Aku hanya bercanda, kok. Sebenarnya kau... lumayan juga, untuk ukuran wanita terdampar di pulau terpencil."

Leena melempar ranting kecil ke arah Lynx, pura-pura kesal. "Ugh, kau ini! Jangan sembarangan mengomentari tubuhku!"

Namun, Lynx dengan sigap menangkap ranting itu dan membalasnya dengan lemparan daun kering. "Ayolah, Leena. Jangan marah begitu. Kau tahu aku hanya bercanda, 'kan?"

Leena berusaha menahan senyumnya, lalu balas melemparkan beberapa kerikil kecil. "Huh, kau memang menyebalkan. Tapi... yah, setidaknya kau tidak terlalu buruk juga, untuk ukuran laki-laki terdampar di sini."

Mendengar itu, Lynx tertawa geli. "Wah, ternyata kau juga diam-diam memperhatikanku, ya? Senang mendengarnya."

Leena mendengus, namun tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. "Siapa juga yang memperhatikanmu? Aku hanya sedang bersyukur kau tidak terlalu buruk untuk dijadikan teman bertahan hidup, itu saja."

Lynx tersenyum lebar, lalu mengedipkan sebelah matanya menggoda. "Ah, jadi kau mengakui aku tampan, begitu?"

"Huh, percaya diri sekali kau!" Leena melempar ranting lagi ke arah Lynx, namun kali ini dengan senyum geli di wajahnya..

Suasana di antara Lynx dan Leena mulai mencair setelah saling melempar candaan ringan. Leena tampak lebih rileks dan bahkan mulai ikut menggoda Lynx.

"Hei, Lynx. Apa kau tahu, tubuhmu itu tidak terlalu buruk juga," ujar Leena dengan nada jahil.

Lynx menaikkan alisnya, terkejut mendengar pujian Leena. "Oh, benarkah? Aku tahu kau diam-diam terpesona padaku."

Leena mendengus geli. "Terpesona? Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya bilang 'tidak terlalu buruk', bukan 'keren' atau 'seksi'."

"Hei, setidaknya aku lebih bagus dari pada papan cucian sepertimu, 'kan?" balas Lynx sambil mengedipkan sebelah mata.

Leena pura-pura tersinggung, lalu mengambil ranting di dekatnya. "Apa kau bilang? Papan cucian, hah?!"

Dengan gerakan cepat, Leena mengayunkan ranting itu ke arah Lynx, seolah hendak memukulnya. Namun, tanpa sengaja, Leena kehilangan keseimbangan dan terpeleset.

"Waa!" Leena memekik kaget saat tubuhnya oleng ke depan.

Dengan sigap, Lynx langsung bereaksi dan menangkap Leena sebelum gadis itu membentur tanah. Namun, karena kuatnya dorongan, mereka berdua akhirnya terjatuh bersama.

Leena mendarat tepat di atas tubuh Lynx dengan posisi lengan Lynx merangkul pinggang Leena, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Keduanya terdiam sejenak, terkejut dengan posisi mereka saat ini.

Lynx bisa merasakan napas Leena yang hangat menerpa wajahnya. Jantung mereka berdebar kencang, seolah dunia di sekitar mereka lenyap. Untuk sesaat, tidak ada yang bersuara, hanya deru napas dan degup jantung yang memenuhi keheningan.

Namun, tiba-tiba Leena merasakan sesuatu yang keras menyentuh bagian bawah tubuhnya. Leena terkesiap dan segera menarik diri. "Lynx! Apa-apaan ini?!" serunya dengan wajah memerah.

Lynx terkejut, menyadari apa yang terjadi. "A-Ah, maaf! Itu... itu refleks, Leena. Aku tidak sengaja!" ujarnya panik.

"Refleks?! Kau bilang refleks?!" Leena berteriak frustasi. "Kenapa kau tidak bisa mengendalikannya, hah?!"

Lynx mengangkat tangannya, berusaha menenangkan Leena. "Maaf, Leena... Kau tahu, itu hal normal bagi laki-laki. Aku tidak bisa mengontrolnya begitu saja."

Leena menggeram kesal. "Normal? Kau pikir ini normal?! Ugh, kau benar-benar menyebalkan!"

Dengan kasar, Leena mendorong Lynx dan bangkit dari posisinya. Lynx juga segera berdiri, merasa bersalah.

"Maafkan aku, Leena. Aku benar-benar tidak sengaja," ujar Lynx dengan nada menyesal.

Leena menatap Lynx dengan tatapan tajam. "Kau selalu saja begini! Kenapa kau tidak bisa mengendalikan dirimu, hah?"

Lynx hanya bisa menunduk dengan pasrah. "Maaf... Aku memang tidak bisa mengontrolnya dengan sempurna. Itu refleks yang sulit dihentikan."

Leena mendengus kesal. "Ugh, dasar laki-laki tidak berguna! Kenapa aku harus terjebak bersama orang sepertimu, sih?"

Meskipun masih merasa malu dan marah, Leena akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu bahwa memarahi Lynx tidak akan menyelesaikan masalah. "Sudahlah, lupakan saja. Kita harus fokus untuk bertahan hidup di sini," ujar Leena, berusaha menenangkan diri.

Lynx mengangguk pelan. "Iya, kau benar. Maafkan aku, Leena. Aku akan berusaha lebih keras untuk mengendalikan diri."

Suasana di antara mereka kembali terasa canggung, namun perlahan-lahan, Lynx dan Leena mencoba untuk kembali fokus pada persiapan menghadapi hari-hari berikutnya di tempat asing ini.

Meskipun kejadian tadi masih membekas di pikiran mereka, keduanya sepakat untuk tidak membahasnya lebih jauh. Setidaknya, untuk saat ini, mereka harus bisa bekerja sama dan saling mendukung demi bertahan hidup.

